Cerita Rakyat Batu Menangis, Populer di Indonesia

Cerita Rakyat Batu Menangis – Apa kamu sudah tau apa pengertian cerita rakyat serta ciri-cirinya, kalau belum kamu bisa mengikuti tautan tersebut, yang pasti cerita rakyat ini datang turun-temurun dari mulut ke mulut dari jaman dahulu, di situ juga ada cerita rakyat tentang bawang putih dan bawang merah.

Ada banyak sekali cerita rakyat yang tersebar di masyarakat, namun di situs ini kami menyajikan cerita rakyat yang memang populer di indonesia, sebut saja salah satunya Cerita Rakyat Keong mas, sudah ada sebelumnya telah kami sajikan di katakatabijak.co.id.

Dengan perkembangan teknologi tidak sulit menemukan cerita rakyat yang populer cukup tuliskan apa yang ingin kamu baca, misalnya saja Cerita Rakyat Lutung kasarung, sudah juga tersaji indah di situs ini.

Penting bagi kita untuk melestarikan kearipan lokal cerita rakyat atau yang yang sering juga disebut dengan dongeng, pernahkah kamu mendengar cerita rakyat Tentang Danau Toba, kalau belum, kamu bisa mengikuti tautanya dan kamu bisa menceritakanya kembali ke orang-orang.

Yang tidak kalah populer lainya yaitu cerita rakyat Tmun Mas, apakah kamu pernah mendengarnya ? kalau belum kamu bisa juga mengikut tautan tersebut, jangan sungkan ya!

Maish banyak lagi cerita rakyat populer di Indonesia yang sengaja kami sajikan untuk pembaca setia kami, Cerita Rakyat Cinde Laras adalah salah satunya. kalau kamu belum pernah mendengarnya dan ingin mengetahuinya, kamu bisa ikuti tautanya oke.

Kali ini kami akan menyajikan cerita rakyat tentang Batu menagis, ini juga populer di Indonesia, simak sampai selesai!

Kisah Batu Menangis

Di sebuah bukit yang jauh dari desa, di daerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.

Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah.

Kerjanya hanya bersolek setiap hari. Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya.

Sementara ibunya berjalan di belakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup di tempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. 

amun ketika melihat orang yang berjalan di belakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya. Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, “Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan di belakang itu ibumu?” Namun, apa jawaban anak gadis itu ? “Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !”

Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu. “Hai, manis. Apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?” “Bukan, bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” Ia adalah budakk!” 

Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya. Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri.

Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya. Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri.

Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa. “Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….” Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu.

Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya. ” Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..” Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu.

Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut ” Batu Menangis “. 

Penutup

Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi.

Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.