Cerita Rakyat Malin Kundang, Populer di Indonesia

Cerita Rakyat Malin Kudang – Cerita legenda ini berasal dari sumatera barat, konon ini merupakan cerita yang memang benar-benar terjadi, tetapi terlepas mau percaya atau tidak, yang pasti setiap cerita legenda atau cerita rakyat mengandung pelajaran, mengandung hikmah yang dapat dipetik.

Sebelum lanjut sebaiknya kita mengetahui dulu apa itu Cerita Rakyat, pengertian dan ciri-cirinya, untuk lebih jelas buka tautan yang telah kami siapkan tersebut, di situ juga bisa membaca cerita tentang bawang putih dan bawang merah.

Mungkin kamu juga ingi membaca cerita rakyat keong mas yang populer di Indonesia, ikuti saja tautanya ya!

Cerita rakyat Lutung kasarung juga tidak kalah seru dan menarik dibanding cerita rakyat lainya, kalau kamu belum pernah membacanya, ikuti saja tautan tersebut.

Cerita Rakyat yang berhubungan dengan danau ada yang telah kami siapkan cerita rakyat danau toba, dan Cerita Rakyat Sipahit Lidah berhubungan dengan danau Ranau.

Masih seputar cerita rakyat yang pernah kami sajikan sebelumnya, yaitu cerita rakyat Timun Mas mungkin kamu tertarik untuk membacanya juga, ikuti saja tautanya.

Ada baiknya sebelum melanjutkan ke Cerita Rakyat Tentang Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, saya akan buatkan dulu Daftar Cerita Rakyat yang kamu juga dapat baca di kataktatabijak.co.id.

  1. Cerita Rakyat Cinde Laras
  2. Cerita Rakyat Batu Menangis
  3. Cerita Rakyat Sangkuriang
  4. Cerita Rakyat Malin Kundang

Cerita Rakyat Malin Kundang

Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra.

Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.

Baca Juga!  Cerita Rakyat Batu Menangis, Populer di Indonesia

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari.

Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.

Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu. Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. 

Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya.

Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Baca Juga!  Cerita Rakyat Sangkuriang, Populer di Indonesia

Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak.

Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang.

Tetapi Malin segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. “Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.

“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. “Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang.

Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Baca Juga!  Cerita Rakyat Cinde Laras, Populer di Indonesia

Penutup

Demikian kisah tentang cerita rakyat Malin kundang yang populer dan melegenda di Indonesia, kita dapat mengambil hikmah dari segala cerita, seperti cerita yang telah kita baca sebelumnya bahwasanya apapun kondisi orang tuamu tidaklah patut untuk durhaka kepadanya.